LA ULIYO BOTE-E, 1535-1560, menggantikan ayahnya La Tenrisukki sebagai mangkau’/raja di Bone. Digelar Bote-e karena dia memiliki postur tubuh yang subur (gempal). Konon sewaktu masih kanak-kanak ia sudah kelihatan besar dan kalau diusung, pengusung lebih dari tujuh orang.

La Uliyo dikenal suka menyabung ayam, kawin dengan We Tenriwewang Denrae anak Arung Pattiro Maggadinge dengan isterinya We Tenrisumange’.

La Uliyo inilah yang pertama didampingi oleh Kajao Laliddong. Dia pulalah yang mengadakan perjanjian dengan Karaenge ri Gowa yang bernama Daeng Matanre.

Dalam perjanjian tersebut dijelaskan Sitettongenna Sudangae nenniya Latea Riduni di Tamalate:

Kalau ada kesulitan Bone, maka laut akan berdaun untuk dilalui oleh orang Mangkasar. Kalau ada kesulitan orang Gowa, maka gundullah gunung untuk dilalui orang Bone. Tidak saling mencurigai, tidak saling bermusuhan Bone dengan Gowa, saling menerima dan saling memberi, siapa yang memimpin Gowa, dialah yang melanjutkan perjanjian ini, siapa yang memimpin Bone dialah yang melanjutkan perjanjian ini sampai kepada anak cucunya. Barang siapa yang mengingkari perjanjian ini, pecahlah periuk nasinya seperti pecahnya telur yang jatuh ke batu:

La Uliyo inilah yang mengalahkan Datu Luwu yang tinggal di Cenrana. Pada masa pemerintahannya pulalah Bone mulai dikuasai oleh Gowa.

Dalam lontara’ dijelaskan bahwa Karaenge ri Gowa duduk bersama Arumpone di sebelah selatan Laccokkong.

Pada saat itu antara orang Bone dengan orang Gowa saling membunuh. Kalau orang Gowa yang membunuh, maka Arumpone yang mengurus jenazahnya. Begitu pula kalau orang Bone yang membunuh, maka Karaenge ri Gowa yang mengurus jenazahnya.

La Uliyo pula yang menemani Karaenge ri Gowa pergi meminta persembahan orang Wajo di Topaceddo.

Setelah genap 25 tahun menjadi raja di Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone. Setelah semuanya berkumpul, disampaikanlah bahwa:

“Saya akan menyerahkan Akkarungeng ini kepada anakku yang bernama La Tenrirawe”

Mendengar pernyataan Arumpone tersebut, seluruh orang Bone setuju. Maka dilantiklah anaknya yang bernama La Tenrirawe Bongkange menjadi raja Bone. Acara pelantikan itu berlangsung meriah selama tujuh hari tujuh malam.

Karena kedudukannya sebagai Arumpone telah diserahkan kepada anaknya, maka La Uliyo Bote-e hanya bolak balik antara isterinya di Bone dengan isterinya di Mampu.

Suatu ketika La Uliyo Bote-e pernah memarahi kemanakannya yang bernama La Paunru dengan sepupunya yang menjadi Arung Paccing yang bernama La Mulia. Keduanya pergi meminta bantuan kepada Kajao Laliddong agar diminta maafkan. Tetapi sebelum rencana itu terlaksana, La Uliyo Bote-e pergi ke Mampu untuk menyabung ayam.
Tiba-tiba ia melihat kemanakannya dan sepupunya membuat hatinya semakin dongkol. Ia pun segera kembali ke Bone.

La Paunru dan La Mulia berpendapat lebih baik kita menyerahkan diri kepada Kajao Laliddong di Bone untuk selanjutnya diminta maafkan kepada Bote-e.
Makanya setelah Bote-e meninggalkan Mampu, keduanya mengikut dari belakang.

Setelah sampai di Itterung, La Uliyo Bote-e menoleh ke belakang, dilihatnya La Paunru bersama La Mulia berjalan mengikutinya.

Karena disangkanya La Paunru dan La Mulia berniat jahat terhadapnya, maka ia pun berbalik menyerangnya. La Paunru dan La Mulia walaupun tidak bermaksud melawan, namun karena terdesak oleh serangan La Uliyo akhirnya keduanya terpaksa melawan.

Dalam perkelahian tersebut, baik La Paunru maupun La Uliyo tewas di tempat, sedangkan La Mulia dibunuh oleh orang yang datang membantu La Uliyo. Sejak itu, digelarlah La Uliyo Bote-e Matinroe ri Itterung.

Adapun anak La Uliyo Bote-e dari isterinya yang bernama We Tenriwewang Denrae, adalah La Tenrirawe Bongkange. Inilah yang menggantikannya sebagai Mangkau’/raja di Bone. La Tenrirawe kawin dengan We Tenripakiu Arung Timurung Maccimpoe.

Anak berikutnya adalah La Inca, dialah yang menggantikan saudaranya menjadi Mangkau’ di Bone. La Inca kawin dengan janda saudaranya, We Tenripakiu Arung Timurung Maccimpoe.

Anaknya yang berikut, We Lempe yang kawin dengan sepupu dua kalinya yang bernama La Saliwu Arung Palakka, anak dari We Mangampewali I Damalaka dengan suaminya La Gome. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenriruwa Arung Palakka Matinroe ri Bantaeng.

Selanjutnya We Tenripakkuwa, kawin dengan La Makkarodda To Tenribali Datu Mario. Sesudah We Tenripakkuwa adalah We Danra Matinroe ri Bincoro. Tidak disebutkan turunannya dalam lontara’

Adapun anak La Uliyo Bote-e dari isterinya yang bernama We Tenrigau Arung Mampu adalah We Balole I Dapalippu. Inilah yang kawin dengan paman sepupu ayahnya yang bernama La Pattawe Arung Kaju Matinroe ri Bettung, anak dari saudara La Tenrisukki Mappajunge yang bernama La Panaongi To Pawawoi Arung Palenna dengan isterinya We Tenriesa’ Arung Kaju.

Sesudah We Balole anak selanjutnya adalah Sangkuru’ Dajeng Petta Battowae Massao Lampe-e ri Majang. Dia digelar pula sebagai Arung Kung, tidak disebutkan keturunannya dalam lontara’.