WE IMANIRATU, I MANNENG ARUNG DATA, SULTANAH SALIMAH RAJIYATUDDIN, MATINROE RI KESSI, 1823-1835,. We Imaniratu, I Manneng Arung Data menggantikan saudaranya Matinroe ri Laleng Bata menjadi Mangkau’ di Bone. Dalam khutbah Jumat nama We Imaniratu I Manneng Arung Data dikenal dengan sebutan Sultanah Salimah Rajiyatuddin. Tahun 1824 pada masa pemerintahannya di Bone, Belanda kembali memerintah.

Pembesar Kompeni Belanda mengajak kepada We Imaniratu untuk meperbarui Perjanjian Bungaya, yaitu perjanjian antara La Tenritatta Arung Palakka Malampee Gemme’na dengan Kompeni Belanda untuk bekerja sama dalam pemerintahan We Imaniratu. Beliau dikenal sangat patuh dalam melaksanakan agama Islam, sehingga dia memperdalam ilmu Tasawuf.

Untuk itu ia diberikan wilayah oleh gurunya yang bernama Seikh Ahmad yang menundukkan Tambora yang digelar Alif Putih. Oleh karena itu We Imaniratu yang juga menggadis terus itu bertegas untuk tidak akan mengulangi Perjanjian Bungaya.

Dengan demikian, Gubernur Belanda menyerang Bone pada tahun 1825. Kemudian tanggal 7 Agustus 1825, baru terjadi kesepakatan antara Bone dengan Gowa untuk menjadi Bond No Shap (semacam Keterikatan) dengan Belanda sebagai realisasi Pembaruan Perjanjian Bungaya.

We Imaniratu dikenal tidak memiliki anak karena tidak pernah menikah. Ia meninggal tahun 1835 dan dinamakan Matinroe ri Kessi. Selanjutnya digantikan oleh saudaranya yang bernama La Mappaseling Arung Panyili.

BAGIKAN