WE BANRIGAU, 1470-1510, menggantikan ayahnya La Saliyu Korampeluwa sebagai ratu di Bone. We Banrigau digelar pula Bissu Lalempili’ (dalam bilik) dan Arung Majang. Ketika menjadi ratu di Bone, We Banrigau menyuruh Arung Katumpi yang bernama La Datti untuk membeli Bulu Cina (gunung Cina) senilai 90 ekor kerbau jantan. Akhirnya gunung yang terletak di sebelah barat Kampung Laliddong itu benar-benar dibelinya. Kemudian disuruhlah Arung Katumpi untuk menempati gunung tersebut dan sekaligus menjaganya.

Karena jennang (penjaga) gunung Arumpone dibunuh oleh orang Katumpi, maka digempurlah Katumpi oleh orang Bone sehingga dirampaslah sawahnya yang ada di sebelah timur dan barat Kampung Laliddong. Saudaranya yang bernama La Tenrigora itulah yang diserahkan Majang dan Cina, maka La Tenrigora disebut sebagai Arung Majang dan Arung Cina. Sedangkan anak pertamanya yang bernama La Tenrisukki dipersiapkan untuk menjadi raja di Bone.

Setelah kurang lebih 18 tahun lamanya dipersiapkan untuk memangku kerajaan di Bone, maka dilantiklah La Tenrisukki menjadi raja di Bone dan menempati Saoraja Bone. Makkaleppie bersama anak bungsunya yang bernama La Tenrigora memilih untuk bertempat tinggal di Cina.

Suatu saat ketika berada di Cina, We Banrigau Makkaleppie naik ke atas loteng rumahnya. Tiba-tiba ada api yang menyala di atas loteng (menurut keyakinan orang disebut = api dewata). Setelah api itu padam, maka We Banrigau Makkaleppie tidak nampak lagi di tempat duduknya. Oleh karena itu, We Banrigau Makkaleppie Daeng Marowa dinamakan Mallajange ri Cina.

La Tenrisukki yang menggantikan ibunya sebagai raja Bone kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenrisongke, anak dari La Mappasessu dengan We Tenrilekke. Dari perkawinan ini lahirlah La Uliyo Bote-e. Dan La Panaongi To Pawawoi yang kemudian menjadi Arung Palenna. La Panaongi kawin dengan We Tenriesa’ Arung Kaju saudara perempuan We Tenrisongke. Dari perkawinan ini lahirlah La Pattawe Daeng Sore Matinroe ri Bettung.

Anak La Tenrisukki yang lain adalah ; La Pateddungi To Pasampoi kawin dengan We Malu Arung Toro melahirkan anak perempuan yang bernama We Tenrirubbang Arung Pattiro. La Tenrigera’ To Tenrisaga Macellae Weluwa’na menjadi Arung di Timpa. Inilah yang kemudian kawin dengan We Tenrisumpala Arung Mampu, anak dari La Potto To Sawedi Arung Mampu Riaja dengan isterinya We Cikodo Datu Bunne. Dari perkawinan ini lahirlah We Mappewali I Damalaka. Inilah yang kawin dengan anak sepupunya yang bernama La Gome To Saliwu Riwawo, lahirlah La Saliwu Arung Palakka dan juga Maddanreng di Mampu. La Saliwu kemudian kawin dengan Massalassae ri Palakka yang bernama We Lempe, lahirlah La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng.

Selanjutnya La Tenrisukki melahirkan La Tadampare (meninggal dimasa kecil). Berikutnya We Tenrisumange I Da Tenri Wewang kawin dengan La Tenrigiling Arung Pattiro Maggadinge anak dari La Settia Arung Pattiro dengan isterinya We Tenribali. Lahirlah We Tenriwewang Denrae yang kemudian kawin dengan sepupunya La Uliyo Bote-e.

Anak berikutnya adalah We Tenritalunru I Da Tenripalesse. Kemudian We Tenrigella kawin dengan La Malesse Opu Daleng Arung Kung. Lahirlah We Tenrigau yang kemudian kawin dengan La Uliyo Bote-e, lahirlah We Temmarowe Arung Kung. Inilah yang kawin dengan La Polo Kallong anak La Pattanempunga, turunan Manurunge ri Batulappa.

BAGIKAN