Bolampare-e atau Bola Subbie adalah bekas Istana Ratu. Bone ke-30 We Fatimah Banri . Awalnya masih mempunyai tiang. Selanjutnya direnovasi oleh La Pawawoi Karaeng Sigeri.

Bola Subbie atau Bolampare’e atau rumah berukir dibangun pada masa pemerintahan ratu Bone ke-30 We Fatimah Banri antara tahun 1871-1895. Di Istana ini sang ratu menjalankan roda pemerintahan di Bone. Dan di istana inilah pula We Fatimah Banri Mengembuskan nafasnya yang terakhir sehingga ia dijuluki Matinroe ri Bolampare’na artinya yang meninggal di istananya.

Bolampare artinya rumah besar dan panjang yang berdiri melintang tidak menghadap ke arah jalanan seperti rumah biasanya melainkan berdiri menyamping. Awalnya rumah ini merupakan rumah panggung yang ditopang beberapa tiang. Namun saat rumpa’na Bone tahun 1905 dipindahkan kompone Belanda ke Makassar sebagai bukti sitaan perang.

Setalah We Fatimah Banri meninggal dalam tahun 1895 digantikan oleh saudaranya yang bernama La Pawawoi Karaeng Sigeri sebagai raja Bone ke-31 tahun 1895-1905. Bolampare’e atau Bola Subbi’e kemudian ditempati La Pawawoi sebagai pusat pemerintahan. Pada masa inilah Belanda mulai menyerang Bone tahun 1905 yang mengakibatkan gugurnya putra mahkota Abdul Hamid Baso Pagilingi dan La Pawawoi Karaeng Sigeri juga ditangkap Belanda.

Dalam tahun 1905 Istana Bolampare’e dikuasai dan Belanda memindahkan rumah tersebut ke Makassar tepatnya di depan Karebosi. Hal ini dilakukan sebagai sitaan perang dan bukti penaklukan Bone. Namun tahun 1922 Belanda mengembalikan ke Bone atas permintaan raja Bone ke-32 La Mappanyukki dan rakyat Bone pada masa itu. Tapi sayangnya rumah tersebut sudah tidak utuh lagi, tiang-tiangnya sudah tidak ada.

Sehingga istana Bolampare’e tersebut yang saat ini terletak di Jalan Merdeka Watampone (Gedung Perpustakaan) tampak seperti “Bola Meppo” artinya rumah duduk tak bertiang. Barangkali menurut hemat kita bersama, istana bersejarah itu bisa diupayakan agar memiliki tiang seperti semula. Dengan begitu dapat menjadi sumber edukasi sejarah bagi generasi sekarang dan selanjutnya.

Soekarno di Bola Subbie tahun 1950

Ketika Tentara Belanda menaklukkan Bone dengan hasil musyawarah pada tanggal 24 Agustus 1905 ibukota kerajaan Bone yang bernama “Lalebata” berubah menjadi nama “Watampone”. Hal itu berdasarkan musyawarah Ade’ Pitu bersama Hindia Belanda di Bola Subbie atau Bolampare’e.

Bola Subbie atau Bolampare’e awalnya berdiri menghadap Taman Raja atau sekarang Taman Arung Palakka. Zaman pemerintahan Hindia Belanda penataan kota dibangun. Area kota ditata mulai wilayah ekonomi, agama, dan pendidikan, pemerintahan dan kalangan bangsawan.

Jalan-jalan dibuat, pohon asam dan kenari ditanam di pinggir jalan. Taman ditata seperti Koning Plein atau Taman Raja sekarang jadi Taman Bunga, kemudian berganti nama Taman Arung Palakka (saat ini). Dan bangunan-bangunan berciri kolonial didirikan.

Sementara itu, Istana Bola Soba (saoraja sekarang) dibangun untuk menggantikan Bola Subbie, selanjutnya Bola Subbi’e dijadikan sebagai Kantor Dewan Ade’ Pitu. Bola Soba awalnya berdiri (persis lokasi Rumah Jabatan Bupati saat ini) kemudian dipindahkan ke Jalan Veteran sebagai markas Marsose dan Rumah Pejabat Hindia Belanda dengan sebutan Tuan Petoro Bottoa (Controler Residen). Dan Tangsi-tangsi militer serta juga Rumah Sakit.

Bola Subbie atau Bolampare’e saat ini menjadi Gedung Perpustakaan Kab.Bone

Tahun 1912, difungsikan sebagai penginapan dan untuk menjamu tamu Belanda. Dari sinilah awal penamaan Bolasoba yang berarti rumah persahabatan atau dalam bahasa Bugis Sao Madduppa to Pole.

Selanjutnya dari Jalan Veteran Watampone dipindahkan ke Jalan Latenritatta Watampone sejak tahun 1978, yang peresmiannya dilakukan pada 14 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (1978-1983) saat itu, Prof Dr. Daoed Joesoef.

BAGIKAN