Membicarakan tentang kacang seakan tidak ada habisnya. Selain karena gurih menyenangkan juga bentuknya yang mungil gempal tak lekang jemu untuk dinikmati. Bahkan makanan yang satu ini sering dikonotasikan salah satu bagian terpenting pada bagian vital perempuan, yaitu klitoris atau “cigi-cigi” kata orang Bugis (red: maafkan daku).

Begitu populernya simungil buruan ini, ia bahkan menjadi majas perbandingan sebagaimana peribahasa bagai kacang lupa kulitnya, artinya orang yang dahulunya miskin setelah menjadi kaya lupa akan asal usulnya. Seseorang yang menjadi sombong, tidak tahu diri dan lupa akan asal usulnya.

Canggoreng Maddetto

Kacang dalam bahasa Bugis disebut “canggoreng” yang berasal dari kata kacang dan goreng. Namun orang Bugis menyebutnya dalam bentuk akronim, yaitu canggoreng. Itulah uniknya bahasa Bugis. Padahal secarah harfiah kacang goreng artinya kacang yang sudah digoreng.

Uniknya lagi ditambah kata “maddetto” yang artinya mengeluarkan bunyi sebelum merekah. Ketika kacang goreng dibuka kulitnya ia menimbulkan bunyi “tok” sehingga disebut “canggoreng maddetto”. Entah makanan yang satu ini karena rasanya gurih atau orang Bugis yang memang unik.

Tahukah Anda kapan mulai populer istilah Canggoreng Maddetto?

Di masa kerajaan Bone dipimpin La Mappanyukki yang memerintah selama 15 tahun (1931-1946). Ia bertemu Soekarno di Bola Subbie bekas istana raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri. Istana tersebut pernah dihancurkan Belanda ketika Perang Bone tahun 1905.

Maksud kedatangan presiden pertama RI tersebut tahun 1950 untuk mengajak Bone bergabung dengan NKRI. Tujuh tahun kemudian dalam tahun 1957 rakyat kerajaan Bone menggelar unjuk rasa (demo) di alun-alun kerajaan (Lapangan Merdeka Watampone sekarang).

Demo yang dikenal paling beradab sepanjang sejarah itu menuntut agar kerajaan Bone bergabung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendemo sebanyak 3.000 ribu dengan memakai sarung dan songkok recca itu duduk bersila di alun-alun, lalu menyampaikan aspirasinya di hadapan raja La Mappanyukki.

Aspirasi rakyat Bone tersebut disetujui ade pitu dan raja Bone. Itulah sebabnya alun-alun itu disebut alun-alun merdeka atau Lapangan Merdeka sekarang. Artinya sebuah moment sejarah yang pernah terjadi yaitu bergabungnya kerajaan Bone dalam pangkuan NKRI.

Sementara dalam unjuk rasa itu para pedagang dari kampung Bukaka menjajakan dagangannya seperti burasa, sokko bajabu, sawa’, baje, pisang dan kacang di sekitar alun-alun tempat berlangsungnya unjuk rasa. Namun yang paling laris adalah pisang dan kacang goreng atau “utti na canggoreng maddetto”.

Bahkan sampai sekarang menjelang malam tiba, di saat matahari menuju peraduan, pisang plus canggoreng maddetto itu masih bisa kita dapati di sekitar Kantor Pos kota Watampone.

Itulah kilasan sejarah tentang canggoreng maddetto yang populer hingga saat ini. Untuk itu harus dipertahankan dan diperlukan kreasi dan inovasi anak muda ” Festival Canggoreng Maddetto” agar dapat mengangkat nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal serta kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

BAGIKAN