Lamuru adalah salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Bone provinsi Sulawesi Selatan. Kecamatan ini terdiri dari 1 kelurahan dan 11 desa, yaitu kelurahan Lalebata dan desa Matampa Walie, Poleonro, Sengeng Palie, Mattampa Bulu, Turu Cinnae, Seberang, Massenrengpulu, Mamminasae, Padaelo, Barugae, dan desa Barakkae.

Pekerjaan utama penduduk kecamatan Lamuru pada umumnya bertani, berkebun, dan beternak. Lahan pertanian berupa sawah cukup luas, namun pengairan masih mengandalkan tadah hujan.

Keberadaan dan penamaan kecamatan ini tidak lepas dari sejarah di mana pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Lamuru yaitu kerajaan yang berdaulat hingga abad ke-16. Namun setelah itu, kerajaan Lamuru selalu ditimpa bencana dan ketidakstabilan.

Di masa pemerintahan raja Gowa ke-10 yakni I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng dalam tahun1547-1565, Lamuru direbutnya dan diserahkan kepada Wajo. Selanjutnya pengganti raja Gowa ke-10 adalah Tunibatta yang gugur dalam pertempuran melawan Bone dalam tahun 1565. Kerajaan Bone pada saat itu dipimpin oleh Lapattawe yaitu raja Bone ke-9 yang memerintah dalam tahun 1565-1602.

Namun sebelumnya itu pada masa pemerintahan raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkange menyerahkan Lamuru dan beberapa daerah lainnya kepada Soppeng tahun1562 dalam perjanjian Tellumpoccoe atau Allamumpatue ri Timurung.

Pada tahun 1660 terjadi lagi perang antara Bone dan Gowa. Dalam hal ini Bone dibantu Soppeng yang menggandeng VOC di belakangnya dan berakhir dengan Perjanjian Bungaya 1667. Sebagai realisasinya Lamuru diserahkan kepada Bone yang pada masa itu dipimpin Arung Palakka selaku raja Bone yang memerintah dalam tahun 1672-1696.

Kemudian beralih kembali ke Soppeng diakhir pemerintahan Arung Palakka dalam tahun 1696. Akan tetapi pada tahun 1770 terjadi pembunuhan Datu Lamuru La Cella oleh Datu Soppeng maka Lamuru memilih bergabung kembali ke Bone. Hingga sekarang Lamuru merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Bone.

Latar Belakang Penamaan Lamuru:

Dari beberapa mitos yang berkembang tentang nama Lamuru itu berasal dari nama orang yang bernama Lamuru. Orang tersebut berasal dari Tellulimpoe. Kedua tempat tersebut memang bertetangga sampai sekarang.

Diabadikannya nama Lamuru itu sebagai nama tempat adalah karena suatu peristiwa gaib menurut anggapan masyarakat pada waktu itu. Sudah menjadi adat tradisional pada saat-saat tertentu diadakan pesta oleh kaum bangsawan, serta diadakan perburuan. Lamuru dikelilingi bukit-bukit, oleh karena itu disebut Lebba Tengngae yang artinya dataran rendah yang dikelilingi oleh gunung.

Suatu ketika daerah itu diadakan perburuan, tiba-tiba salah seorang pesertanya yang bernama Lamuru menghilang bersama anjing hitamnya. Setelah diusahakan pencarian oleh masyarakat, akhirnya yang ditemukan hanya anjingnya saja di suatu tempat dengan sikap seperti menunggui sesuatu.

Karena Lamuru sudah tidak ditemukan lagi, maka di tempat anjing itu ditemukan diberikan pagar batu sebagai tanda. Daerah di mana Lamuru itu menghilang kemudian disebut Lamuru sebagai tanda atas menghilangnya diri Lamru. Sementara tempat di mana dibuat pagar batu tempat anjing hitam ditemukan disebut Lalebata.

Selain pemberian nama Lamuru dari peristiwa menghilangnya seorang pemburu, juga ada pemberian nama dari segi geografis di mana wilayah Lamuru dianggap terkurung oleh wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan besar lainnya seperti Bone, Wajo, dan Soppeng. Kata naurung/terkurung inilah yang nantinya berabah pengucapannya menjadi Lamuru.

Terbentuknya kerajaan Lamuru agak sulit untuk ditentukan secara pasti, mengingat bahwa hingga kini belum ditemukannya sumber-sumber atau bukti-bukti sejarah yang menjelaskan kapan berdirinya kerajaan Lamuru.

Lamuru sebagai suatu pemukiman sudah cukup tua. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya artefak pra-aksara sejenis marospoint dan flakes yang diperkirakan telah berusia kurang lebih 2000 tahun sebelum masehi karena terjadi pada zaman Mezolitikum.

Kesulitan penentuan waktu yang terjadi pula pada kerajaan lain di Sulawesi Selatan, ini disebabkan karena penemuan sumber sejarah berupa lontara di Sulawesi Selatan ditemukan nanti pada masa pemerintahan raja Gowa Tumamparisi Kallonna sekitar tahun 1500 Masehi.

Pada masa itulah Tumailalang, yaitu Daeng Pamatte membuat Lontara atas perintah raja Gowa. Huruf Lontara itu pada mulanya hanya berjumlah 18 huruf saja dan nanti seratus tahun kemudian baru ditambah dengan huruf Ha, sehingga menjadi 19 huruf seperti sekarang ini.

Tidak seperti di Jawa di mana banyak ditemukan Prasasti yang dapat menjadi petunjuk tentang perkembangan suatu kerajaan. Maka untuk mencari penentuan waktu suatu fase pemerintahan di Sulawesi Selatan seperti halnya di Gowa, maka perhitungan dimulai pada masa pemerintahan raja Gowa yang bernama Tunipallangga Ulaweng yang tercatat dalam buku lontara memerintah pada tahun 1547 sampai dengan 1565.

Bertitik tolak dari masa pemerintahan Tunipallangga Ulaweng, diadakan perhitungan ke belakang sampai pada masa pemerintahan raja Gowa pertama yang bernama Tumanurung Baineya yang diperkirakan memerintah sekitar tahun 1300. Ada pendapat tentang sejarah pertumbuhan daerah di Sulawesi Selatan, di mana dianggap sebagai cikal bakal dari pembentukan suatu kerajaan dimulai pada masa raja pertamanya yang digelari To Manurung.

Di Sulawesi Selatan, selain raja Gowa pertama Tumanurung Bainea, dikenal pula To Manurung yang lain seperti Mata Silompo’e Manurungnge ri Matajang di Bone, Sampurusiang di Luwu, serta La Temmamala Manurungnge ri Sekkayili di Soppeng.

Maka demikian pula di Lamuru dikenal dengan Manurungnge ri Selorong yang diberi nama Petta Pitue Matanna. Manurungnge ri Selorong inilah yang dianggap sebagai cikal bakal raja pertama di Lamuru. Berdasarkan atas perhitungan kemunculan To Manurung di Sulawesi Selatan, maka dapat diperkirakan bahwa terbentuknya kerajaan Lamuru terjadi pada sekitar abad ke-14.

Dengan usaha sendiri serta tidak melepaskan diri dari imbasan kerajaan-kerajaan sekitarnya, Lamuru berusaha mempertahankan eksistensinya sebagai suatu kerajaan. Adanya makam raja-raja sebagai bukti kerajaan Lamuru pernah berjaya di masa lalu, terdapat kompleks raja-raja Lamuru yang hingga saat ini dapat disaksikan. Makam-makam yang terdapat di kompleks ini sebagian besar makam raja-raja Lamuru.

Kompleks Makam Raja-raja Watang Lamuru Kabupaten Bone dikuatkan dengan No. Inventarisasi : 40 dan SK. Penetapan Situs : Nomor : 240/M/1999, tanggal 4 Oktober 1999 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, M.A. Kompleks makam tersebut terletak di Dusun Lempue, Kelurahan Lalebbata, Kecamatan Lamuru Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan dengan ketinggian 38 mdpl.

Kompleks Makam Raja-Raja Watang Lamuru terletak di antara sungai Selarong dan Cinoko serta bukit-bukit Lapatoko. Makam terbesar berukuran 4,06 x 2,50 x 2,24 m, tinggi nisan 1,10 m. Makam terkecil berukuran 1,46 x 0,92 x 0,18 m, tinggi nisan 0,72 m.

Pada kompleks makam ini terdiri atas 3 tipe yaitu:
* Tipe A, adalah makam yang dibuat dari susunan balok bata persegi, posisinya terdiri atas kaki, tubuh, dan atap.
* Tipe B, berbentuk seperti bangunan kayu dengan memasang empat papan batu sehingga membentuk kotak empat persegi. Bagian tengah dinding selatan utara dibuat meruncing. Ukiran-ukiran terdapat di keempat sisi.
* Tipe C, adalah makam yang paling sederhana, dibuat dari dua lapis batu secara berundak-undak. Bagian atas ada dua buah nisan. Motif hias yang banyak dijumpai pada nisan-nisan tersebut antara lain motif awan, daun, bunga atau ikal morsal, tulisan Arab.

Di dalam kompleks makam Raja-Raja Lamuru, terdapat satu makam yang sering dikunjungi oleh peziarah, makam tersebut merupakan Datu—sebutan untuk raja—Lamuru yang ke -9 beranama Retna Kencana Arung Pancana Toa Colli’ Pujie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Colli’ Pujie. Colli’ Pujie inilah yang dikenal sebagai penghimpun naskah-naskah tua Lagaligo bersama B.F.Matthes Misionaris dan Oriantalis Belanda. Mereka menyusuri hutan, lembah, dan mendaki perbukitan di daerah pedalaman untuk mencari dan menghimpun naskah tersebut.

Colli’ Pujie berhasil merawat dan menyelamatkan ingatan kolektif dan warisan budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Colli’ Pujie adalah seorang perempuan yang menjadi penguasa di Tanete yakni salah satu kerajaan yang terdapat di daerah Barru. Makam tersebut sering dikunjungi pemda Bone dan masyarakat lainnya terutama pada setiap peringatan hari jadi Bone.

BAGIKAN