Sejarah Masjid Tua Bone

920

Bukanlah suatu kebetulan jika dalam peristiwa hijrah, sebelum Nabi Muhammad sampai di Yastrib, ia bersama kaum Muhajirin lainnya singgah di desa Quba, selama empat hari. Di tempat ini Nabi mendirikan sebuah masjid yang hingga saat ini dikenang sebagai Masjid Quba.

Demikian juga ketika Nabi sampai di Kota Yastrib yang kelak menjadi kota Madinah, ia membangun sebuah masjid yang kelak dikenang sebagai Masjid Nabawi.

Demikian juga dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad, yang diyakini oleh kalangan pengamal sufi sebagai prototipe pengalaman ketuhanan seorang muslim sejati, juga tak lepas dari masjid, yakni ketika Nabi berangkat dari Masjid Haram di Mekkah menuju Masjid al-Aqsha di Palestina.

Hal tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya menjadikan masjid sebagai sarana gerakan sosial menuju penyempurnaan spiritual.

Pada masa-masa selanjutnya, masjid menjadi perhatian utama. Para sahabat yang menjadi khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad juga tak kalah besar perhatiannya terhadap masjid. Abu Bakar al-Shiddiq (khalifah pertama) menjadikan Masjid Nabawi sebagai tempat berlangsungnya pemerintahan, di
samping fungsi-fungsi peribadatan yang telah berlangsung sejak didirikan pada masa Rasulullah.

Demikian Umar bin al-Khaththab, ketika menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar diketahui merenovasi Masjid Haram, Hal paling fenomenal dalam sejarah terkait dengan Umar bin Khathth abadalah ketika mendirikan sebuah masjid di samping gereja pada saat kaum muslimin merebut kota suci Yerussalem atau Bait al-Maqdis (Rumah Suci).

Dalam konteks sejarah pendidikan Islam, terdapat indikasi kuat bahwa masjid menjadi basis utama. Bahkan dapat dikatakan bahwa lembaga pendidikan pertama dan utama pada masa Islam klasik adalah masjid.

Masjid menjadi semacam katalisator dan gerbong utama dalam upaya islamisasi di
sebuah wilayah yang baru memeluk Islam. Selain itu, masjid kelihatannya sudah menjadi ikon dan bukti kehebatan, bahkan merupakan kebanggaan tersendiri bagi para penguasa Islam di sepanjang sejarah sosial umat Islam.

Oleh karena itu, para ahli sejarah, baik muslim maupun para orientalis Barat menjadikan masjid sebagai objek kajian yang tak kalah menariknya, selain objek-objek lainnya. Seorang orientalis sekelas Ernest Renan yang dikenal kurang ramah terhadap Islam, sampai-sampai harus mengakui akan hal ini.

Salah satu ucapannya yang terkenal menyebutkan bahwa: “Je ne suis jamais entre’ dans une mosquee’ sans une vive emotion”. Artinya: “Saya tidak pernah masuk ke sebuah masjid, tanpa suatu emosi yang timbul”.

SEJARAH MASJID TUA AL-MUJAHIDIN

Masjid Al-Mujahidin Watampone, dikenal juga dengan nama MASIGI LAUNGNGE (MASJID TUA). Diyakini oleh banyak kalangan di Bone bahwa masjid inilah yang pertama dibangun di Bone. Masjid ini sebagian meyakini dibangun pada masa La Maddaremmeng Raja Bone ke-13 pada tahun 1639 Masehi. Ia memerintah di Bone dalam tahun 1631-1644.

La Maddaremmeng dikenal taat menjalankan syariat Islam, guna memberikan bimbingan dan penyebarluasan Islam terutama di lingkungan kerajaan beliau mendatangkan ahli agama Islam dari Gowa yang bernama Fakih Amrullah. Kemudian diangkatnya dalam jabatan sebagai Kadhi. Ulama dari Gowa inilah yang menjadi Kadhi pertama di kerajaan Bone.

Dalam catatan Lontara Akkarungeng di Bone disebutkan, bahwa untuk memperkenalkan agama Islam secara mendalam saat itu, La Maddaremmeng mendatangkan ulama dari Kerajaan Gowa Tallo. Ia mendatangkan ulama langsung dari Kerajaan Gowa Tallo yang lebih dahulu memeluk Islam.

La Maddaremmeng juga dikenal raja yang anti perbudakan, ia juga menghapuskan perbudakan di tanah Bugis. Menurutnya dalam ajaran Islam semua manusia sama, yang membedakan adalah tingkat ketakwaan dan keimanannya kepada Allah SWT.

Namun ada juga yang mengatakan dalam catatan Asnawi Sulaiman, disebutkan bahwa Masjid Al-Mujahidin didirkan oleh Kadhi Kerajaan Bone yang pertama, yaitu : FAKIH AMRULLAH. Kekudian ia menjadi Kadhi di lingkungan istana Kerajaan Bone.

Langkah pertama yang dilakukan oleh Faqih Amrullah sebagai kadhi di Kerajaan Bone adalah membangun sebuah masjid di dekat istana Kerajaan Bone. Di masjid inilah Patta Kalie (Kadhi) pertama memberikan bimbingan dan pengajaran kepada keluarga istana kerajaan Bone.

Dalam catatan Asnawi Sulaiman menegaskan bahwa Fakih Amrullah bukanlah orang Bone, melainkan orang Gowa. Faqih Amrullah lahir di Gowa sekitar tahun 1603 Masehi.Dari pihak ayah, ia adalah putra seorang keturunan Arab, Sayid Muhsin.

Dan Sayid Muhsin sendiri adalah putera dari Sayid Ba’Alwi bin Abdullah, seorang ulama yang datang dari Mekah dan menetap di Kerajaan Gowa tidak lama setelah Gowa menerima Islam.

Ibunya adalah putri I Malingkaan Daeng Manyonri Sultan Abdullah Awwalul Islam (raja Tallo) dan Mangkubumi Kerajaan Gowa, Raja Tallo yang pertama masuk Islam. Dengan demikian, dari jalur ibu iaadalah keluarga bangsawan Gowa.

Asnawi Sulaiman menyebutkan, bahwa bahwa kadhi pertama di Kerajaan Bone tidak diangkat oleh Raja Bone sebagaimana lazim pada pengangkatan Kadhi Bone berikutnya, tetapi ia dikirim oleh Raja Gowa ke-15 Sultan Malikussaid (1639-1653 Masehi.

Asnawi Sulaiman tidak menyebutkan secara jelas angka tahun pengiriman Fakih Amrullah sebagai kadhi di Kerajaan Bone. Ia hanya menyebutkan bahwa pengiriman tersebut terjadi pada masa pemerintahan Raja Bone ke-13 La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shalih Matinroe ri Bukaka Kalokkoe (1631-1644 M).

Untuk memperkirakan tahun pengiriman Fakih Amrullah menjadi kadhi yang sekaligus menandai awal pembangunan Masjid Al-Mujahidin, dapat dilakukan dengan membanding antara masa pemerintahan Raja Gowa Sultan Malikussaid dan Raja Bone La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shalih.

Raja Gowa ke-15 I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung yang digelar Sultan Malikussaid Tuminanga ri papang batuna. Ia lahir 11 Desember 1605 dan berkuasa mulai tahun 1639 dan wafat 6 November 1653 Masehi.

Dengan demikian Raja Gowa ke-15 Sultan Malikussaid, memerintah antara tahun 1639-1653 Masehi sedangkan La Maddaremmeng memerintah antara tahun 1631-1644 Masehi.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengiriman Fakih Amrullah tersebut diperkirakan terjadi 8 tahun dalam pemerintahan La Maddaremmeng (1639) dan pada waktu itu kerajaan Gowa baru saja dipimpin oleh Sultan Malikussaid tahun 1639-1653 (awal pemerintahan Sultan Malikussaid).

Jika kesimpulan di atas benar, maka dapat diperkirakan bahwa tahun berdirinya Masjid Al-Mujahidin adalah sekitar tahun 1639 Masehi yang bertepatan dengan masa-masa awal pemerintahan Raja Gowa ke-15 Sultan Malikussaid dan delapan tahun pemerintahan La Maddaremmeng Raja Bone ke-13 (1631-1644). La Maddaremmeng berkuasa di Bone selama 13 tahun.

FUNGSI MASJID

Dalam penelusuran penulis pemanfataan atau fungsi Masjid Al-Mujahidin, kelihatannya tidak jauh berbeda dengan fungsi masjid sebagaimana yang berlaku sejak zaman Nabi sampai masa-masa berikutnya, yakni fungsi
ibadah dan fungsi sosial. Hal itu dapat dijelaskan seperti berikut ini:

1. Fungsi Ibadah

Dapat dipastikan bahwa keberadaan Masjid Al-Mujahidin, sejak didirikan oleh La Maddaremmeng dengan Kadhi Bone Pertama, Fakih Amrullah bin Saiyyid Muhsin bin Sayyid Ba’alwi Abdullah adalah agar dapat berfungsi sebagai tempat ibadah.

Ibadah yang dimaksud di sisi adalah ibadah-ibadah mahdha, misalnya, salat,
dzikir, berdoa, Itikaf dan lainya. Pelaksanaan Ibadah tersebut terutama diperuntukkan kepada raja dan bangsawan istana kerajaan Bone lainnya.

2. Fungsi Pendidikan

Secara umum sangat sedikit catatan semasa yang menggambarkan pelaksaan pendidikan Islam pada masa-masa awal. Meskipun demikian, seorang pengamat Prancis bernama Gervaise meninggalkan catatan penting tentang pendidikan anak-anak bangsawan di Istana Gowa abad ke-17.

Pengamat Prancis itu menulis:

Sesudah anak laki-laki berumur 5 atau 6 tahun, mereka lazim disuruh didik pada orang lain untuk mencegah pengaruh ibunya yang dapat mengakibatkan melemahnya sifat kejantanannya. Kalau mereka sudah berumur 7 atau 8 tahun mereka mulai belajar mengaji, menulis dan berhitung di bawah pimpinan seorang “Haji”, satu jam pagi dan satu jam
sore, selama dua tahun.

Dapat diduga, bahwa pola pendidikan yang berlaku di Gowa sebagaimana tergambar dalam kutipan di atas juga berlaku di kerajaan Bone. Hal ini didasarkan pada keterangan sebelumnya bahwa orang yang bertama melaksanakan pendidikan Islam secara resmi di Bone adalah Kadhi pertama Bone yaitu Fakih Amrullah, yang berasal dari Gowa.

Berkaitan dengan pembinaan pendidikan Islam di Masjid Al-Mujahidin, sampai awal abad ke-19 tidak ditemukan gambarannya secara rinci, misalnya tentang materi dan kitab-kitab yang dibaca dan lain-lain. Namun dapat diyakini bahwa sejak ditetapkannya Islam sebagai agama resmi kerajaan Bone pendidikan Islam berupa pengajian-pengajian Al-Quran dan kitab kuning (MANGAJI KITTA’) sudah berlangsung.

Di era raja Bone ke-15 Arung Palakka tahun 1672-1696 diyakini bahwa ketika itu pengajian Al-Quran dan kitab kuning tumbuh pesat, sebab Arung Palakka sendiri yang memberikan perintah.

Dalam salah satu pidatonya tidak lama setelah dinobatkan menjadi raja Bone, dalam acara pemotongan rambut Arung Palakka sebagaimana janjinya jika dapat mengalahkan Gowa tahun 1670 M, ia mengatakan:

“mouni silellang mua bola nalimpungi awo, napobicarai bicaranna, naiya nabbicarang nasengnge palorongngi welerenna, paddaungi raukkajunna, napoarajangngi Bone napoadecengngi palilina, napoatuangngi tomaegae”

“Tapada letei petautta pelempu togi mejekko togi. Tapada poanui akkeanung toriolota de-eppa bicara lawangngi. Naiya taola gau’na Puatta Matinroe ri Gucinna sangngadinna riakaperekenna”.

“Iyatopa mennang ripoadakko, mouni silelleng mua bola nalipungi awo, pada patettokko langkara’, tapeasseriwi agamae.

“Iyatopa mennang ripallebbariakko palili simemengennae Bone, rekko engkai suro ribatennae Bone muttama’ riwanuammu maelo’ marala, aja’ mualai, iayanatu napoarajang Bone.

“Narekko tassinrupai ada ripattenningangngekko arolano risurona Bone mulattu poadai ri Bonemu, tennalai tu Bonemu nakko tennapasilasai.

Terjemahannya:

“…walaupun hanya sebuah keluarga/rumah berpagar bambu, tetap diakui haknya untuk melaksanakan hukum adat yang dapat memelihara hubungan baik dan membesarkan kerajaan Bone demi kebaikan rakyat. Tetap berpegang teguh kepada hukum adat dan mengakui hak milik perorangan yang telah berlangsung sejak dahulu.

“Tetap berpegang teguh kepada peraturan “panngaderreng” yang telah ditetapkan oleh Puatta’ La Tenrirawe, Bongkangnge, Matinroe ri Gucinna (Raja Bone ke-7) kecuali kekafirannya”

“Selanjutnya, saya juga menyampaikan, walaupun hanya sebuah keluarga/rumah yang berpagar bambu, agar didirikan langgar/masjid guna meneguhkan pelaksanaan syariat agama Islam.

“Selanjutnya, diumumkan, apa bila ada utusan pribadi raja Bone memasuki daerah untuk mengambil seseorang/sesuatu, jangan sekali-kali dihalangi. Itulah salah satu kebesaran Bone.

“Apa bila tindakan mereka bertentangan dengan adat yang berlaku, ikutilah mereka untuk menghadap raja Bone. Raja Bone tidak akan mengambil sesuatu dari kalian apabila tidak sesuai dengan hukum yang berlaku yang berdasarkan panngaderreng”.

Dalam pidato tersebut, Arung Palakka jelas menyerukan kepada seluruh rakyat Bone untuk membangun “langkara atau langgar atau surau” di setiap kampung, agar masyarakat dapat memperdalam ilmu agama Islam. Hal ini juga menunjukkan bahwa upaya islamisasi di kerajaan Bone melalui pendidikan Islam terus berjalan.

Khusus di Masjid Al-Mujahidin setelah dibangun sekitar tahun 1639 M, Faqih Amrullah melaksanakan pendidikan dan pengkaderan bagi para juru dakwah dalam upaya pengembangan dakwah Islam di kerajaan Bone. Salah seorang kader atau murid yang juga putranya sendiri adalah Syekh Ismail yang kelak menggantikannya sebagai Kadi Bone ke-4.

Proses pendidikan Islam yang dilaksanakan di Masjid Al-Mujahidin terus berlangsung, dan para Kadhi Bone menjadi tokoh utamanya. Model pembelajaran yang digunakan dapat diduga mengikuti pola umum di Nusantara, yakni model halaqah yang kemudian dikenal dalam istilah PESANTREN dengan bandongan dan sorogan.

Eksistensi Masjid Al-Mujahidin sebagai masjid kerajaan Bone, terus menjadi basis pendidikan Islam berupa pengajian Al-Quran dan kitab kuning (mangaji tudang) yang diselenggarakan oleh Kadhi Bone dan para pembantunya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa beberapa orang Raja Bone yang didampingi Kadhi Bone menjadi penganut sekaligus penyebar ajaran tarekat Khalwatiyah Yusufiyah. Bahkan ada yang dapat disebut ulama, karena menguasai bahasa Arab dan ilmu tarekat, serta menulis kitab, yakni raja Bone ke-23 La Tenritappu Sultan Ahmad Shaleh Syamsuddin (1775-1812) yang didampingi oleh Arab Harun, Kadhi Bone ke-8.

Arab Harun adalah seorang yang dipandang banyak berjasa dalam menyebarkan ajaran Tarekat Khalwatiyah Yusufiyah di Kerajaan Bone. Hal ini dapat diketahui dari aktivitasnya sebagai penyalin risalah tarekat ini.

Atas permintaan raja Bone La Tenritappu ia menyalin dan memperbanyak karya dari Syekh Yusuf dan muridnya, Syekh Abdul Dhahir atau Tuan Rappang I Bodi.

Dalam catatan sejarah Bone, Arumpone La Tenritappu yang tempat tinggalnya Rompegading dan Bone secara bergantian. Pada tahun 1812 La Tenritappu meninggal dunia di Rompegading, maka dinamakanlah Matinroe ri Rompegading. La Tenritappu, Daeng Palallo MatinroE ri Rompegading digantikan oleh anaknya yang bernama La Mappasessu To Appatunru sebagai Mangkau’ di Bone.

Menurut catatan Abu Hamid bahwa sekitar sebanyak 30 buah risalah yang pernah disalin oleh Arab Harun. Adapun Risalah-risalah tersebut adalah sebagai berikut:
1) Fathu al-Rahman,
2) Matla’ al-Saraair wa al-Zhawahir,
3) Mathalibu al-Salikin,
4) Fathu Kaifiyat al-Dzikri,
5) al-Barakat al-Sailaniyah,
6) al-Fawaaih al-Yusufiyat fi Bayaani al-Tahqiq, 7) Kaifiyat al-Manfai,
8) Tahshilu al-Inayah wa al-Hidayat,
9) Risalah Ghaayah al-Ikhtishaar wa al-Nihayah al-Intizdar,
10) Sirrul al-Asraar,
11) Daqaaiqul al-Asraar,
12) Bahjatu al-Tanwiyr,
13) Fassu Hikmat al-Ilahiyah,
14) al-A’yaanu al-Tsaabitah,
15) Tuhfat al-Mursalah,
16) Risalah al-Wudhuui,
17) Ma’rifah al-Tauhid,
18) Muqaddimah al-Fawaaid,
19) Asraaru al-Shalawaat,
20) Bahrun al-Lahut,
21), Wahdat al-Wujuud,
22) Al-Fautsu al-A’zdam,
23) Bayaan Allah,
24) Nuurul Haadiy Ila Thariiqy al-Rasyaad,
25) Bidaayatu al-Mubtadiy,
26) Tahkshishu al-Ma’aarif,
27) Daf’u al-Bala’,
28) Ajaran Syekh Yusuf (Bahasa Bugis),
29) Futuhaatu al-Ilahiyyah,
30) Zubdatu al-Asraar.

Karena ia adalah Kadhi Bone, tentu saja aktivitas keilmuan Arab Harun lebih banyak dilakukan di Masjid Al-Mujahidin Watampone. Hal ini menjadikan Masjid Al-Mujahidin bukan hanya sebagai tempat pelaksaan ibadah-ibadah tertentu, seperti salat, melainkan sebagai basis utama pelaksanaan dan pengembangan pendidikan Islam di kerajaan Bone dan wilayah lainnya.

Kenyataan di atas juga menunjukkan bahwa materi pendidikan yang diajarkan oleh para Kadi Bone tidak terbatas pada dasar-dasar agama Islam, tetapi mencakup tasawuf.

Aktivitas pendidikan Islam di Masjid Al-Mujahidin semakin maju, ketika tahun 1809 Masehi putra Arab Harun, Haji Pesona, tampil sebagai Kadhi Bone ke-9 menggantikn ayahnya. Keilmuannya tidak diragukan, sebab ia pernah mengenyam pendidikan di Haramayn. Sebagai Kadhi Bone, tentu saja tetap melanjutkan aktivitas keilmuan Kadhi Bone sebelumnya, yang juga adalah ayahnya.

Pada masa Haji Pesona pendidikan Islam diduga kuat semakin berkembang, sebab di samping dia sendiri seorang ulama, ia diketahui didampingi seorang khatib (katte’) yang dikenal sebagai ulama besar pada masanya, yakni Syekh Abu Bakar Palakka yang bergelar Al-Khatib Bone. Sebelum menjadi khatib Bone, ia pernah mengenyam pendidikan di Mekah.

Syekh Abu Bakar Palakka juga diketahui pernah menyalin beberapa risalah fikih maupun tasawuf (tarekat), baik ketika masih di Mekah maupun ketika kembali ke Bone dan menjabat sebagai khatib. Dia digelar Al-Khatib Bone.

Berdasarkan catatan Wan Mohammad Shaghir Abdullah, diketahui bahwa al-Khatib Bone Abu Bakar Palakka setidaknya menyalin lima buah risalah, yakni:

1) Risalatul Wudhu, karya Tajuddin yang digelar dengan Tajul bin Arifin ibnu Sultan Utsman an-Naqsyabandi. Diselesaikan pada hari Sabtu, 26 Jumadil Awal di rumahnya di Palakka, tanpa menyebut tahun.
2) Al-Risalah an-Naqsyabandiyah, karya Syeikh Yusuf Tajul al-Khalwati Mankatsi. Dicatat pada halaman akhir, selesai penyalinan pada hari
Sabtu, bulan Muharam, tanpa menyebut tahun. Pada salinan menggunakan nama “al-Faqir Khatib Bone”, tanpa menyebut nama asli Haji Abu Bakar Bugis.
3) Jam’ul Fawaid as-Sunbuliyah al-Muwashshalah ila Maratibh al-‘Aliyah
karya gurunya, al-‘Alim al-‘Allamah al-‘Arif ar-Rabbani Syeikh Muhammad As’ad bin Syeikh Muhammad Thahir as-Sunbul bin al-Allamah Syeikh Muhammad Sa’id al-Makki.
4) Daqaiq al-Asrar fi Tahqiqi Qawa’id as-Sirriyah wa Bayani Ahlillahil Arifin, karya Syeikh Abul Fattah Abu Yahya Abdul Bashir ad-Dhariri,
yaitu seorang murid Syeikh Yusuf Tajul Khalwati al-Mankatsi. Di akhir salinan dicatatkan, “…Khatib Bone di rumah di negeri Palakka, selesai menyalin pada waktu Dhuha, hari Rabu, 9 Zulkaiddah 1233 H”.
5) Zubdah al-Asrar fi Tahqiqi Ba’dhi Masyarib al-Akhyar karya Syeikh Yusuf at-Tajul Khalwati al-Makassari. Dicatat selesai menyalinnya pada 9 Ramadan 1235 H oleh Khatib Bone namanya Abu Bakar.

Dari latar belakang keilmuannya (alumni Mekah) dan lima buah kitab yang disalin tersebut dapat dipastikan bahwa Syekh Abu Bakar Palakka adalah seorang ulama besar, sebagaimana ulama-ulama Nusantara alumni Haramayn.

Sebagai Khatib di Kerajaan Bone yang mendampingi Haji Pesona (Kadhi Bone)
juga dapat diduga bahwa aktivitas keilmuannya dilaksanakan di Masjid Al-Mujahidin. Ilmu-ilmu yang diajarkannya juga dapat dipastikan merujuk pada ilmu fikih dan ilmu tarekat, seperti yang tertuang dalam beberapa kitab yang beliau salin.

Pendidikan Islam yang berpusat di Masjid Al-Mujahidin kelihatannya terus berkembang ketika Kadhi Bone dijabat oleh Kadhi Bone ke-10, Syekh Ahmad tahun 1823-1845 yang menggantikan Haji Pesona. Syekh Ahmad adalah adik Syekh Abu Bakar Palakka, Khatib Bone, seperti yang telah disinggung sebelumnya. Ia cukup lama sebagai kadhi di kerajaan Bone.

Selama menjabat Kadhi di kerajaan Bone Syekh Ahmad mendampingi tiga Raja Bone yaitu :

* I Mani Arung Data, Ratu Bone ke-25 lengkapnya adalah We Imaniratu, I Manneng Arung Data, Sultanah Salimah Rajiyatuddin Matinroe ri Kessi yang memerintah tahun 1823-1835 Masehi.

* La Mappaseling, Raja Bone ke-26 lengkapnya adalah La Mappaseling Sultan Adam Najamuddin Matinroe ri Salassana yang memerintah tahun 1835-1845 Masehi.

* La Parenrengi Raja Bone ke-27 lengkapnya adalah La Parenrengi Arungpugi Sultan Ahmad Muhiddin Matinroe Riajang Benteng yang memerintah tahun 1845-1857 Masehi.

Sama dengan kakaknya, Syekh Ahmad juga dikenal sebagai seorang menganut tarekat Khalwatiyah Yusufiyah.

Dalam Lontara’ Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa Syekh Ahmad menjadi guru tarekat bagi Raja Bone I Mani Arung Data. Ia juga diketahui menyalin salah satu kitab karya Syekh Yusuf al-Makassari, yakni Asrar Ash-Shalah fi Tabyin Muqaranah An-Niyah bi Takbirah Al-Ihram fi al-Fiqh wa at-Tashawuf `ala I’tiqad Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah wa Mazhab as-Syafi’i. Selesai ditulis 25 bulan Haji, 1237 H.

Pada pertengahan abad ke-19, Kadhi Bone dijabat oleh K.H. Adam tahun 1847-1865 Masehi. Walaupun tidak ditemukan catatan khusus mengenai aktivitas pendidikan Islam yang dijalankan oleh K.H. Adam, tetapi pengalamannya menimba ilmu di Mekah selama kurang lebih 8 tahun sebelum menjabat sebagai Kadhi Bone, tentu menjadi pertimbangan kuat bahwa ia memiliki kedalaman dan keluasan ilmu-ilmu keislaman.

Dalam catatan Asnawi Sulaiman menyebutkan bahwa ketika K.H. Adam menjabat sebagai Kadhi Bone, ia merenovasi Masjid Al-Mujahidin dan untuk pertama kalinya mendirikan bangunan khusus kantor syara’ di depan Masjid Al-Mujahidin. Bangunan bekas kantor syara’ tersebut masih dapat disaksikan hingga hari ini di Jalan Sungai Citarum Watampone.

Selain itu, terdapat bukti yang dikatakan sebagai peninggalan K.H. Adam yang hingga kini dapat disaksikan, yakni sebuah manuskrip kitab suci Al-Quran yang masih ditulis tangan. Pada lembaran akhir manuskrip Al-Qur’an ini terdapat keterangan bahwa “Al-Qur’an ini ditulis oleh Al-Fakir Haji Abdussalam Al-Jawi Bugisi, pada tahun 1263 H.

Di dalamnya juga diterangkan bahwa Al-Fakir Haji Abdussalam Al-Jawi Bugisi berasal dari Pammana yaitu sebuah desa yang terletak antara Wajo dan Bone. Al-Qur’an ini diperkirakan dibawa oleh K.H. Adam dari Mekah, ketika ia kembali ke Bone setelah menyelesaikan pendidikannya.

Walaupun manuskrip ini bukan karya K.H. Adam, namun peninggalan tersebut menjadi bukti bahwa ia adalah Kadhi Bone yang mengajarkan Al-Quran di Masjid Al-Mujahidin Watampone masa lalu.

Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, Kadhi Bone dijabat oleh K.H. Muhammad Yusuf atau Kadi Bone ke-11 (1879-1905 M). Ia adalah putera K.H. Adam. Seperti ayahnya dan beberapa pendahulunya, KH. Muhammad Yusuf juga pernah menempuh pendidikan di Mekah selama empat tahun.

Oleh karena itu, patut dikatakan bahwa K.H. Muhammad Yusuf melanjutkan pengajian Al-Quran dan Kitab Kuning (mangaji tudang) di Masjid Al-Mujahidin. Terkait dengan hal ini, terdapat keterangan Abdul Rahman Getteng bahwa pesantren yang berdiri pertama kali di Sulawesi Selatan adalah di Watampone. Pesantren ini didirikan oleh Petta Yusuf (KH.Muhammad Yusuf) seorang ulama yang pernah menimba ilmu di Mekah.

Sangat kurang keterangan tentang Petta Yusuf yang mendirikan pesantren di Watampone tersebut, namun sama sekali tidak diperoleh keterangan selain bahwa pada masa lalu ulama yang mengadakan pengajian kitab kuning atau mangaji kitta di Watampone bernama Petta Yusuf adalah Petta Kali Yusuf atau Kadi Bone K.H. Muhammad Yusuf yang membina pengajian kitab di Masjid Al-Mujahidin.

Akan tetapi patut diduga bahwa Petta Yusuf yang disebut Abd. Rahman Getteng tersebut adalah Kadi Bone ke-11 KH. Muhammad Yusuf yang oleh masyarakat Bone mengenalnya sebagai Petta Kalie Yusuf. Kemudian pesantren yang didirikan itu dapat dipastikan berupa pengajian kitab kuning atau mangaji kitta yang dilaksanakan di Masjid Al-Mujahidin pada masa itu.

Pada masa jabatan KH. Abdul Hamid, Kerajaan Bone kedatangan seorang ulama dari Mekah, yakni Syekh Mahmud Abdul Jawad. Pada awal kedatangannya, ia mengadakan pengajian kitab di Masjid Al-Mujahidin Watampone atas dukungan Raja Bone ke-32 La Mappanyukki Sultan Ibrahim dan Kadhi Bone KH. Abdul Hamid. Dari pengajian inilah, kemudian pada tahun pada tahun 1933 atas prakarsa La Mappanyukki dan Kadhi Bone KH.Abdul Hamid tersebut didirikan Madrasah AMIRIYAH ISLAMIYAH di Watampone.

Ketika Raja Bone terakhir (ke-33) La Pabenteng naik takhta, bersamaan itu pula diangkat K.H. Sulaiman sebagai Kadi Bone ke-18 menggantikan K.H. Abdul Hamid. Ia pun tetap melanjutkan pengajian di Masjid Al-Mujahidin.

Pada masa K.H. Muhammad Rafi Sulaiman menjabat sebagai Kadhi Bone, yakni mulai tahun 1962 sampai 1991, di Masjid Al-Mujahidin pendidikan Islam terus berjalan dan berkembang pesat.

Bahkan dalam bentuk yang lebih terorganisir, yakni berupa madrasah diniyah. Masyarakat Bone menyebutnya dengan istilah SIKOLA ARA’. Beberapa orang Kiai turut membantu di antaranya adalah: KH. Rahman Lalo dan
K.H. Khatib Taslim.

Hingga sampai era tahun 2000-an di Masjid Al-Mujahidin masih diselenggarakan halaqah pengajian kitab kuning setiap selesai salat Magrib yang dibina oleh K.H. Rusyaid Mattu, mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Alauddin Watampone.

Seperti disaksikan, bahwa di Masjid Al-Mujahidin hingga saat ini masih berjalan pengajian dasar Al-Quran berupa TK/TPA. Kemudian pada sore hari diselenggarakan pendidikan Islam dalam bentuk Madrasah Diniyah. Namun demikian, sangat disayangkan bahwa pengajian kitab kuning atau mangaji kitta, sudah tidak ada lagi.

TERAKHIR

Masjid Tua Al-Mujahidin Watampone yang terletak di Jalan Sungai Citarum Watampone Kabupaten Bone, didirikan La Maddaremmeng bersama Fakih Amrullah sebagai Kadhi pertama di kerajaan Bone sekitar tahun 1639 Masehi.

Pembangunan Masjid Almujahidin Watampone awalnya diperuntukkan kepada keluarga kerajaan Bone, sekaligus sebagai tempat pelaksanaan dan pembinaan pendidikan Islam.

Sebelum kerajaan Bone berintegrasi dengan Negara Kesatuan Indonesia, Para Kadhi Kerajaan Bone menjadikan Masjid Tua Al-Mujahidin sebagai tempat aktivitas mereka. Fungsinya sebagai tempat pendidikan terus berlanjut, walaupun Bone tidak lagi sebagai Kerajaan.

REFERENSI

1. John Renard “All The King’s Falcon; Rumi On Prophets and Revelation”, diterjemahkan oleh Muhammad Hasyim Assagaf, Rajali Sang Raja; Senandung Rumi Tentang Nabi dan Wahyu. Cetakan pertama; Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001.

2. Karena Amstrong “Muhammad; A Biografi of Prophet” diterjemahkan oleh Sirikit Syah, Muhammad Sang Nabi; Sebuah Biografi Kritis. Cetakan pertama; Surabaya: Risalah Gusti, 2001.

3. Zuhairi Misrawi. Mekkah; Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim. Jakarta:
PT. Media Kompas Nusantara, 2009.
Nurcholish Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan. Cetakan IV; Jakarta: Paramadina,
2002.

4. Umar Amin Hoesin, Kultur Isla. Jakarta: Bulan Bintang. 1982.

5. Lapidus, “A History of Islamic Socienties” diterjemahkan oleh Ghufron A.
Mas’adi, Sejarah Sosial Umat Islam, Jilid I dan II. Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999.

6. Trias Kuncahyono, Jerussalem; Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Terakhir. Cetakan pertama; Jakarta: PT. Media Kompas Nusantara, 2008.

7. Azsyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Melinium Baru. Cetakan I; Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999.

8. George Abraham Makdisi “The Rise of Humanism in Classical Islam and The
Christian West” diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh A. Syamsurizal dan Nurhidayah, Cita Humanisme Islam; Panorama Kebangkitan Intelektual dan Budaya Islam dan Pengaruhnya Terhadap
Renaissance Barat. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2007.

9. G.F. Pijper “Studien over de geschiedenis van de Islam in Indonesia 1900-1950”, diterjemahkan oleh Tudjimah dan Yessi Augustin, Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950. Cetakan Kedua; Jakarta: UI-Press, 1986.

10.Leonard Y. Andaya, Warisan Arung Palakka; Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17,
Cetakan II Edisi Indonesia; Makassar: Ininnawa, 2006.

11. Mattulada, LATOA: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang
Bugis, h. 76.

12. Hamid, Abu. Syekh Yusuf; Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang. Edisi Kedua; Jakarta:
Yayasan Obor Indoenesia, 2005.

13. Nabilah Lubis, Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makassari; Menyingkap Intisari Segala
Rahasia . Bandung: Mizan, 1996.

14. Wan Mohammad Shaghir Abdullah, Syekh Abu Bakar Palakka.

15. Getteng, Abd. Rahman. Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan; Tinjauan Historis dari Tradisi Hingga Modern., Cetakan Pertama; Yogyakarta: Graha Guru, 2005.

16. Asnawi Sulaiman, Sejarah Singkat Keqadhian (Qadhi) Bone (Cetakan I; Jakarta:
Lembaga Solidaritas Islam al-Qashash, 2004

17. Ridhwan, Masjid Tua Al-Mujahidin Watampone, Sejarah Pendiriaan dan Fungsinya : Kaintannya dengan Pendidikan Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Watampone 2017.

18. Ridhwan, Pendidikan Islam di Bone: Studi Tentang Peran Kadi dalam Pengembangan Pendidikan Islam, Lhoksemawe Aceh: Unimal Press, 2016.

19. Zuhairi Misrawi, Madinah; Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad
Saw. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2009.

20. Teluk Bone, Daftar Raja-Raja Bone

21. Teluk Bone, Sejarah Masjid Raya Watampone.