Sejarah Tari Lalosu

331

Tari Lalosu atau sere Lalosu berasal dari kata lao-lisu yang artinya bolak-balik, adalah tari rakyat dari Sulawesi Selatan tepatnya Kabupaten Wajo.

Tari lalosu merupakan tari tradisional Kabupaten Wajo yang ditarikan oleh anak dara, dara manis yang perawan. Makna tari ini secara simbolis salah satunya merupakan tari persembahan penjemputan tamu-tamu agung, raja-raja Kabupaten Wajo yang telah ada sejak masa kerajaan wajo.

Selain itu, dalam upacara pengantinan, atau perkawinan secara adat yang lengkap. Yaitu untuk menjemput calon pengantin pria ke rumah calon pengantin wanita.

Tari lalosu ini menggunakan properti semacam benda memanjang sekitar satu meter dengan simbol kepala ayam jago. Maknanya adalah kedatangan tamu agung ini dapat membawa berkah, kesejukan, dan kedamaian di tanah Wajo.

Tamu agung diibaratkan seperti ayam jago yang berkokok menyambut terbitnya sinar mentari pagi yang membawakan kesejukan, dan kedamaian. Juga dapat diartikan sebagai pakkur sumange’ bagi tamu agung yang datang ke Tanah Wajo.

Latarbelakang munculnya tari lolosu sebagai tari tradisional Bugis di Tanah Wajo ini karena adanya semboyan: maradeka to Wajoe, taro pasaro gau’na naita talena ade’na napopuang yang artinya Orang Wajo itu orang yang merdeka, apa yang dikatakan itu pula yang dilakukan, mengetahui kemampuannya, dan menjunjung tinggi nilai adat istiadatnya.

Di samping itu falsafahnya 3 S: sipakatau-sipakainge’-sipakalebbi. Atau saling memanusiakan-manusia, saling mengingatkan akan hal-hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk, dan saling menghargai.

Orang-orang Wajo menerima tamu dengan adat istiadatnya, tamu yang datang itu diterima sebagai raja yang harus dihormati jadi adalah wajib memberikan suguhan dan penyambutan maksimal yang berdasar pada tuntutan adat istiadatnya. Sehingga tamu agung itu merasa senang, bangga, dan merasa dirinya dihargai oleh tuan rumah itu khususnya di Tanah Wajo.

Dulunya tari ini berkembang di lingkungan kerajaan. Dasar tarinya, yakni gerak tari dengan properti lolosu, utamanya pada gerak tangan, di mana tangan tak boleh melebihi kepala. Karena bila tangan terangkat akan kelihatan ketiak penari. Hal seperti itu pantang sekali dalam adat istiadat Wajo.

Gerak pinggul tidak dominan, karena tari ini tari adat yang wajar kalau disebut malebbbi yang manusiawi sebagai perempuan ditampilkan dalam posisinya.

Pakaiannya ada yang disebut passabu dan celana panjang yang artinya jiwa dan semangat kaum perempuan Bugis Wajo ini memiliki semangat kerja yang tinggi namun tidak meninggalkan sifat feminim yang mencintai budaya masyarakat.

Pola gerak dimulai dengan bersyaf yang dinamakan uliang-sumange atau mengembalikan semangat, memberikan kenangan yang bagus di mana di negeri ini masih ada kesejukan yang mengesankan bagi tamu yang datang. Gerakan kepala sangat kurang karena harus sesuai konsep malebbi.

BAGIKAN