Masih segar dalam ingatan saya ketika Presiden Soeharto berkunjung ke Bumi Arung Palakka tahun 1981. Tentunya generasi yang lahir belakangan ada yang tidak mengetahui kalau 37 tahun silam pernah ada peristiwa nasional yang terjadi di Kabupaten Bone.

Presiden Republik Indonesia Soeharto bersama Ibu Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien) melakukan kunjungan kerja di Desa Paccing, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dalam rangka Panen Raya OPERASI LAPPO ASE (OLA), pada Rabu, 26 Agustus 1981.

Operasi Lappo Ase yang disingkat OLA dalam bahasa Bugis “Lappo Ase” artinya Lumbung Padi atau Gudang Beras di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan.

Sampai saat ini Desa Paccing Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone di tengah persawahan berdiri sebuah tugu yang disebut TUGU LAPPO ASE. Tugu ini dibangun sebagai bukti prasasti bahwa Desa Paccing yang berjarak 7 km dari kota Watampone ini pernah terjadi suatu peristiwa/kegiatan Nasional.

Pada masa itu, Bone yang dikenal memiliki catatan perjalanan sejarah yang cukup panjang spontan menjadi perbincangan nasional. Di mana pada masa itu Bone menjadi kabupaten percontohan nasional atas keberhasilannya di bidang pertanian khususnya tanaman padi.

Petani Bone menerapkan cara tanam padi yang dikenal dengan “Tandur Jajar”. Cara tanam tandur jajar, yaitu tanam padi dengan mengatur jarak tanam di mana antara barisan tanaman diberi jarak yang agak lebar, sehingga ada barisan kosong antara barisan tanaman, namun tidak mengurangi jumlah rumpun per satuan luas bahkan bisa lebih banyak.

H.P.B. Harahap, Kepala Daerah Dati II Bone Tahun 1976-1982 sebelumnya memerintahkan kepada seluruh Pemerintah Wilayah Kecamatan dan Kepala Desa untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Kepala Negara.

Kedatangan Presiden Soeharto dan rombongan disambut meriah oleh masyarakat Bone dengan upacara adat. Masyarakat Bone tumpah ruah menyambut kehadiran Kepala Negara. Suharto disambut dengan tari padduppa. Di mana pada masa itu Kabupaten Bone hanya terdiri 21 kecamatan dan 105 desa.

Dalam sambutannya sambil mengenakan Songkok To Bone , Presiden menyatakan rasa bangga dan berterima kasih kepada para petani di Kabupaten Bone karena produksi beras kita dapat terus ditingkatkan dengan angka yang benar-benar mengesankan.

Dikatakannya bahwa tingkat produksi yang tinggi ini adalah hasil jerih payah para petani dengan bantuan para pembinanya. Presiden juga mengingatkan, bahwa peningkatan produksi beras itu bertujuan untuk menaikkan taraf hidup kaum tani yang merupakan lapisan terbesar masyarakat Indonesia.

Menurut Presiden, dengan meningkatnya penghasilan petani berarti bertambah besar pula daya beli masyarakat kita. Besarnya daya beli ini berarti pasaran yang bertambah luas bagi produksi industri dan produksi lain-lainnya yang berarti bertambah luasnya kegiatan ekonomi.

Suksesnya pembangunan pertanian merupakan kunci penting dari keberhasilan pembangunan Indonesia secara keseluruhan khususnya masyarakat Bone itu sendiri.

Lanjut Presiden, “Sesuai dengan GBHN maka dalam Repelita III ini kita harus berusaha keras agar dapat mencuk:upi kebutuhan pangan menuju swasembada”

Dengan perbaikan para petani akan meningkat pula harkat dan martabat serta kesejahteraan rakyat Indonesia yang umumnya tinggal diperdesaan.

“Dengan peningkatan produksi pangan, maka impor pangan dapat dikurangi, dan peningkatan produksi pangan juga berarti perbaikan penghasilan berjuta-juta petani,” kata Presiden.

Presiden Soeharto minta agar usaha untuk meningkatkan produksi pangan terutama beras harus mendapat perhatian secara sungguh-sungguh.

Presiden Soeharto menyatakan keyakinnya bahwa dengan melaksanakan sebaik-baiknya Panca Usaha dan Intensifikasi menjadi peluang untuk menaikkan produksi pangan yang akhirnya terwujudnya tekad kita untuk berswasembada pangan.

“Operasi Lappo Ase di Bone ini telah membuktikan dan meningkatkan produksi, beras, walaupun daerah ini masih merupakan daerah tadah hujan” Pada kesempatan itu, Presiden Suharto bangga dan berterima kasih kepada orang Bone.

Selain menghadiri panen raya Lappo Ase, Presiden Suharto secara simbolis juga meresmikan beberapa proyek dan sarana pendidikan di Ujung Pandang, di antaranya Sekolah Guru Perawat Tidung Ujung Pandang, Pusat Pembibitan Ulat Sutera, Bili-bili, dan Jembatan Sungai Tallo.

Soeharto Sebelum Tiba di Bone

Presiden Soeharto dan lbu Tien Soeharto bersama rombongan, tepat pukul 10.80 Wita tiba di lapangan udara Hasanuddin Ujung pandang.

Di pelabuhan udara Hasanuddin Presiden dan rombongan disambut oleh Gubernur Sulsel H. Andi Oddang dan Nyonya, Pangkowilhan Ill Letjen TNI Himawan Soetanto, Panglima ketiga angkatan dan Kadapol XIV/Sulseltra, Ketua DPRD Sulawesi selatan Abd. Latief, sejumlah pejabat pemerintah, Korpri, Dharma Wanita dan pramuka.

Melalui tumpukan padi setinggi 1,5 meter di kiri- kanan pintu gerbang menuju VIP room Pelabuhan Udara Hasanuddin, Presiden dan rombongan disambut secara adat dan Tari Mappaddekko (tari menumbuk padi).

Tari mappaddekko pertunjukkan rakyat tradisional tanda kesuburan berhasilnya panen padi “Operasi Lappo Ase” yang diperagakan sekitar 100 putri dengan kostum Waju Tokko yang beraneka ragam warnanya.

Tumpukan padi tersebut merupakan lambang berhasilnya produksi padi melalui program “Operasi Lappo Ase di Sulsel yang upacara panen rayanya dipusatkan di Desa Paccing, Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone, sekitar 180 kilometer sebelah Timur Ujung pandang.

Setelah beristirahat selama 30 menit di VIP room, Presiden dan ibu Tien bersama rombongan yang terdiri dari tujuh Menteri Kabinet Pembangunan III dan beberapa Gubernur di antaranya Gubernur Sumbar, NTB, NTT, Sultra, Sulteng dan Sulut serta Gubernur Sulsel, dengan pesawat heli TNI-AU menuju Kabupaten Bone.

Di Desa Paccing, Presiden meresmikan pula secara simbolis tiga buah proyek pembangunan masing-masing jembatan tol Tallo Ujung pandang yang merupakan jembatan tol pertama di luar Pulau Jawa, dibangun dengan biaya Rp 929.785.000.

Selain itu, Presiden juga meresmikan gedung sekolah guru perawat Ujung pandang yang merupakan proyek bantuan Pemerintah Jepang dengan beaya Rp 2.779.500.000,- dan proyek pusat pembibitan ulat sutera di Bili-Bili, Kabupaten Gowa, yang ditandai dengan pemberian bantuan sejumlah ulat sutera kepada petani sutera di daerah itu.

Proyek ini juga dibangun atas kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang dengan biaya Rp 7 miliyar.

Turut serta dalam rombongan Presiden Soeharto, yakni Menteri Ekuin Widjojo Nitisastro, Menteri Sekretaris Negara Soedharmono, Menteri Pertanian a.i. Harun Zain. Menteri Kesehatan Soewardjono. Menteri Pekerjaan Umum Purnomosidi, dan Menteri Muda Urusan Koperasi Bustanil Arifin.

Pantauan di lapangan, mulai jalan Wajo kota Watampone sampai Jembatan Lattekko dipenuhi ribuan manusia menyambut kehadiran Pak Harto.

Dengan kehadiran Soeharto kali ini berarti sudah 2 (dua) Presiden yang pernah mengunjungi Bone, yaitu Presiden RI Pertama Soekarno pada tahun 1950 pada waktu itu Soekarno diterima oleh La Mappanyukki di Bola Subbie. Maksud kedatangan Soekarno, yakni mengajak kerajaan Bone bergabung dengan NKRI.

Itulah sedikit catatan perjalanan Pak Harto sewaktu mengunjungi Bone. Beliau orang hebat dan disegani yang pernah memimpin Indonesia selama 32 tahun.

Pak Harto juga mengantarkan Indonesia menjadi negara yang ditakuti dan berswasembada pangan pada masanya.

BAGIKAN